Pernah ada momen kayak gini?
Tiba-tiba diminta:
“Coba proyeksikan penjualan tahun depan ya. Buat 3 skenario sekalian untuk 3 skenario, yaitu : optimis, normal, sama worst case.”
Padahal yang ada di tangan cuma:
- data penjualan 5 tahun terakhir
- sedikit info soal budget iklan
Nggak ada model machine learning.
Nggak ada tools canggih.
Tapi tetap harus jawab.
Tenang, ini justru kasus klasik yang bisa diselesaikan pakai Excel, asal cara mikirnya rapi.
Mulai dari Cerita Datanya
Anggap kita punya data seperti ini:
| Tahun | Penjualan | Biaya Iklan |
|---|---|---|
| 2021 | 1.200.000 | 100.000 |
| 2022 | 1.350.000 | 120.000 |
| 2023 | 1.500.000 | 130.000 |
| 2024 | 1.650.000 | 150.000 |
| 2025 | 1.800.000 | 170.000 |
Kalau dilihat sekilas:
- Penjualan naik terus
- Biaya iklan juga naik
- Kenaikannya relatif stabil
Di sini, kita belum butuh rumus rumit.
Cukup jawab satu pertanyaan dulu: “Rata-rata naiknya berapa tiap tahun?”
Cari Pola Sederhana
Hitung kenaikan tahunan:
- 2021 → 2022: +150.000
- 2022 → 2023: +150.000
- 2023 → 2024: +150.000
- 2024 → 2025: +150.000
Menarik.
Polanya konsisten.
Artinya kita bisa bilang: baseline growth kita sekitar +150.000 per tahun
Masukkan Variabel Bisnis: Biaya Iklan
Sekarang mulai realistis.
Biasanya:
- Kalau iklan naik → penjualan ikut terdorong
- Kalau iklan ditekan → growth melambat
Misalnya asumsi sederhana:
- Setiap kenaikan iklan 10% → boost penjualan sekitar 5–8%
Nggak harus presisi banget.
Yang penting logis dan bisa dijelaskan.
Bangun 3 Skenario
1. Skenario Tengah (Realistis)
Asumsi:
- Iklan naik normal (sekitar 10%)
- Growth tetap stabil
Perhitungan:
1.800.000 + 150.000 = 1.950.000
Proyeksi: 1.950.000
2. Skenario Optimis
Asumsi:
- Iklan lebih agresif (misal +20%)
- Ada tambahan dorongan market
Kita tambahkan boost, misalnya +10% dari growth:
Growth = 150.000 + (10% × 150.000) = 165.000
1.800.000 + 165.000 = 1.965.000
Proyeksi: ±1.965.000
3. Skenario Lower (Konservatif)
Asumsi:
- Iklan ditahan
- Market melambat
Growth kita turunkan, misalnya jadi 70%:
Growth = 150.000 × 70% = 105.000
1.800.000 + 105.000 = 1.905.000
Proyeksi: ±1.905.000
Kenapa Pendekatan Ini Masuk Akal?
Karena:
- Berangkat dari data historis (5 tahun)
- Ada logika bisnis (biaya iklan)
- Transparan (semua asumsi kelihatan)
Bukan sekadar angka “feeling”.
Cara Bikin di Excel (Simple Banget)
Strukturnya cukup:
| Tahun | Penjualan | Growth | Skenario Tengah | Optimis | Lower |
|---|
Rumus dasar:
- Growth = selisih tahun terakhir
- Skenario = Penjualan terakhir + Growth (dengan adjustment)
Contoh:
Lower =B8+($D$9*0.7)Medium =B8+($D$9*1)Optimis =B8+($D$9*1.1)
Lalu tinggal dimodifikasi:
Optimis = Growth * 110%Medium = Growth * 100%
Lower = Growth * 70%
Yang Sebenarnya Dicari Bukan Angkanya
Seringkali, atasan atau stakeholder itu bukan butuh angka paling akurat.
Mereka butuh:
- gambaran kemungkinan
- batas atas & bawah
- bahan untuk ambil keputusan
Dan pendekatan seperti ini menjawab itu.
Ujungnya apa?
Forecast itu bukan soal jadi paling benar.
Tapi soal:
punya dasar yang jelas untuk melihat ke depan.
Dengan:
- data sederhana
- logika yang masuk akal
- dan sedikit struktur
Excel sudah lebih dari cukup.
Sisanya?
Tinggal keberanian untuk bilang:
“Ini asumsi kita, dan ini skenarionya.”
Ini sample rumusnya klik di sini