Sejak pelatihan berakhir, pikiran saya justru terus muter: kira-kira area mana di kantor yang paling cocok dijadikan proyek Green Productivity pertama?
Itulah kesan yang saya bawa setelah mengikuti pelatihan Green Productivity Specialist yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI di PPPD Jakarta pada 2–4 Juni 2026.
Berawal dari Undangan yang Tidak Disangka
Kesempatan ini datang melalui perusahaan tempat saya bekerja, PT Sunergy Urban Nusantara, yang merupakan anggota Kadin Jakarta.
Salah satu manfaat menjadi anggota Kadin yang mungkin belum banyak diketahui adalah adanya berbagai kesempatan mengikuti program pengembangan kompetensi dari pemerintah maupun lembaga mitra. Salah satunya adalah pelatihan Green Productivity Specialist yang diselenggarakan oleh Kemnaker RI.
Yang menarik, seluruh biaya pelatihan ditanggung negara. Peserta tidak dikenakan biaya apa pun.
Begitu membaca informasi pelatihan ini, saya langsung tertarik. Bukan semata karena gratis, tetapi karena ada satu hal yang membuat saya penasaran: setelah pelatihan selesai, peserta akan diminta menjalankan proyek Green Productivity nyata di organisasi masing-masing.
Artinya, ini bukan sekadar pelatihan yang selesai ketika sertifikat dibagikan.
Tiga Hari yang Padat, Tapi Menyenangkan
Selama tiga hari, kami belajar dari pagi hingga sore dengan materi yang cukup padat.
Hari pertama diisi dengan pengenalan konsep Green Productivity, prinsip-prinsip dasarnya, serta framework yang digunakan dalam implementasinya.
Hari kedua mulai masuk ke berbagai tools analisis, studi kasus, dan simulasi. Di sesi ini diskusi menjadi lebih hidup karena peserta diajak melihat berbagai contoh nyata dan mencoba menerapkan metode yang dipelajari.
Hari ketiga digunakan untuk review materi sekaligus ujian tertulis dalam bahasa Inggris. Lumayan membuat peserta harus kembali membuka catatan dan memastikan konsep-konsep yang dipelajari benar-benar dipahami.
Pelatihan ini difasilitasi oleh Bapak Leonard Tiopan Panjaitan, MT, CSRA, CGPS, CPS. Yang saya sukai, beliau tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga banyak membagikan pengalaman implementasi dan contoh kasus nyata. Jadi setiap konsep terasa lebih mudah dipahami dan langsung terbayang bagaimana penerapannya di lapangan.
Jadi, Apa Itu Green Productivity?
Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya mengira Green Productivity hanya berkaitan dengan program lingkungan atau pengurangan limbah.
Ternyata konsepnya jauh lebih luas.
Green Productivity merupakan pendekatan yang dikembangkan oleh Asian Productivity Organization (APO) untuk membantu organisasi meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Sederhananya, pendekatan ini berusaha menjawab pertanyaan:
Bagaimana menghasilkan nilai yang lebih besar dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan dampak lingkungan yang lebih kecil?
Karena itu, Green Productivity bukan hanya soal "menjadi lebih hijau", tetapi juga tentang meningkatkan efisiensi, menekan pemborosan, dan memperbaiki kinerja organisasi secara keseluruhan.
Bagian Favorit Saya: Angka dan Analisis
Kalau boleh jujur, bagian yang paling saya nikmati justru ketika mulai masuk ke berbagai metode analisis.
Salah satunya adalah Material Flow Cost Accounting (MFCA). Metode ini membantu melihat biaya yang sebenarnya tersembunyi dalam material yang terbuang.
Sering kali limbah dianggap hanya sebagai sisa produksi atau sesuatu yang harus dibuang. Padahal jika dihitung lebih detail, setiap material yang terbuang sebenarnya membawa biaya pembelian, biaya proses, bahkan biaya penanganannya.
Kami juga belajar menggunakan Cost Benefit Analysis (CBA) untuk mengevaluasi kelayakan sebuah inisiatif perbaikan, serta Total Factor Productivity (TFP) untuk mengukur efisiensi secara lebih menyeluruh.
Karena latar belakang saya cukup dekat dengan dunia bisnis dan manajemen, bagian-bagian seperti ini terasa menyenangkan. Hampir setiap contoh kasus yang dibahas langsung memunculkan pertanyaan di kepala saya:
"Kalau diterapkan di kantor, hasilnya seperti apa ya?"
Bonus yang Tidak Ada di Modul: Teman-Teman Baru
Selain materi, salah satu hal yang paling saya syukuri adalah kesempatan bertemu dengan peserta dari berbagai perusahaan dan sektor industri.
Ada yang berasal dari manufaktur, energi, jasa, dan bidang lainnya. Menarik mendengar bagaimana setiap organisasi memiliki tantangan yang berbeda, tetapi banyak persoalan yang ternyata mirip: pemborosan energi, penggunaan material yang kurang efisien, proses kerja yang masih bisa diperbaiki, hingga upaya meningkatkan produktivitas tanpa menambah sumber daya secara berlebihan.
Diskusi-diskusi ringan saat istirahat atau makan siang sering kali menghasilkan perspektif baru yang tidak selalu muncul di ruang kelas.
Semoga silaturahmi dan jejaring yang terbangun selama tiga hari ini bisa terus terjaga dan membuka peluang kolaborasi di masa depan.
Setelah Pelatihan, Justru Tantangan Dimulai
Bagian yang paling menarik sebenarnya baru dimulai setelah pelatihan selesai.
Setiap peserta akan menjalankan proyek Green Productivity di organisasi masing-masing selama kurang lebih 6 hingga 12 bulan. Dan yang membuat program ini semakin menarik, implementasi tersebut akan mendapatkan pendampingan dari Kementerian Ketenagakerjaan RI.
Jadi tantangannya bukan lagi memahami konsep, tetapi membuktikan bahwa konsep tersebut benar-benar bisa menghasilkan perbaikan yang nyata.
Jika proyek berhasil dijalankan dan terdokumentasi dengan baik, langkah berikutnya adalah mengikuti proses sertifikasi internasional Certified Green Productivity Specialist dari APO.
Pulang Membawa Banyak Ide
Tiga hari ini terasa singkat, tetapi cukup membuka banyak perspektif baru.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya justru sibuk menghitung-hitung area mana yang paling layak dijadikan pilot project pertama. Mulai dari penggunaan energi, efisiensi proses kerja, hingga berbagai potensi pemborosan yang mungkin selama ini belum terlihat.
Yang jelas, saya pulang bukan hanya membawa sertifikat dan materi pelatihan.
Saya pulang membawa banyak ide, banyak teman baru, dan satu "PR" yang cukup menantang untuk beberapa bulan ke depan.
Semoga beberapa waktu lagi sudah ada cerita implementasi yang bisa saya bagikan di sini—lengkap dengan tantangan, pembelajaran, dan hasil yang diperoleh selama prosesnya.
Oh iya saya mengadaptasi tools checker laporan green productivity di blog saya di laman https://arya.hujantrafik.com/p/apo-green-productivity-report-checker.html untuk teman-teman coba.
Pada akhirnya, terima kasih kepada Kementerian Ketenagakerjaan RI, PPPD Jakarta, fasilitator, dan seluruh peserta yang telah membuat pengalaman belajar ini menjadi sangat berkesan.
Sampai jumpa di cerita Green Productivity berikutnya. 🌱